Hari Kedua PSBB di Padang, Hening Bak Kota Mati

PADANG, HARIANHALUAN.COM — Pembatasan Sosial Berskala Besar di Kota Padang, Provinsi Sumbar telah berlaku mulai Rabu (22/4/2020) kemarin. Kebijakan itu berlaku hingga 14 hari ke depan tepatnya pada 5 Mei 2020. Pelaksanaan PSBB ini berdasarkan Keputusan Gubernur Sumbar Nomor 180-297-2020, tentang Pemberlakuan PSBB di Wilayah Provinsi Sumbar dalam Rangka Percepatan Penanganan Covid-19.

Peraturan PSBB tersebut mengatur sejumlah hal terkait pembatasan aktivitas di sekolah atupun institusi pendidikan hingga pembatasan pelayanan transportasi umum.

Untuk sekolah ataupun institusi pendidikan ditutup sementara selama pemberlakuan PSBB. Proses belajar mengajar diganti dengan metode jarak jauh di rumah, begitu pula evaluasi belajar atau ujian. Namun lembaga pendidikan, pelatihan dan penelitian yang berkaitan dengan pelayanan kesehatan tetap mengacu sesuai protokol pencegahan Covid-19.

Bagi aktivitas di kantor, berdasarkan Pergub PSBB itu. Baik pemerintahan, perusahaan, institusi agar menutup kantor atau menerapkan aturan Work From Home. Jika tetap beroperasi, perusahaan wajib menerapkan aturan pembatasan (psyhical distancing). Untuk yang menderita penyakit penyerta, ibu hamil, serta lansia 60 dilarang beraktivitas di tempat kerja.

Adapun sektor yang boleh beroperasi selama PSBB, yakni instansi pemerintah pusat dan daerah, BUMN, BUMD sesuai dengan aturan Kementerian terkait.

Begitu juga institusi kesehatan, pangan, TNI/Polri, energi, komunikasi, keuangan, logistik, perhotelan, media, kontruksi, industri strategis, dan organisasi kemasyarakatan lokal dan internasional yang bergerak pada sektor kebencanaan atau sosial.

Sementara pembatasan aktivitas di rumah ibadah. Aktivitas dimaksud adalah penghentian sementara aktivitas keagamaan di rumah ibadah, kecuali adzan
dan penanda waktu ibadah lainnya, disarankan beribadah di rumah saja.

Selama PSBB, penanggung jawab rumah
ibadah diwajibkan memberikan edukasi atau pengertian kepada jamaah untuk tetap melakukan kegiataan keagamaan di rumah, melakukan pencegahan penyebaran Covid-19 di rumah ibadah, serta menjaga keamanan rumah ibadah.

Demikian pula aktivitas di fasilitas umum. Dilarang melakukan kegiatan lebih dari 5 (lima) orang di
tempat atau fasilitas umum, pengelola wajib menutup sementara fasilitas umum. Kecuali fasilitas untuk penyediaan kebutuhan pokok dan
barang penting sehari-hari.

Seperti, pasar rakyat, toko swalayan, berjenis restoran, jasa laundry, minimarket, supermarket,
hypermarket, toko/warung kelontong, toko bangunan.

Saat pemberlakuan PSBB, aktivitas kegiatan sosial, budaya dan pariwisata juga dibatasi. Pertama, dilarang mengikuti dan atau mengadakan kegiatan yang menimbulkan kerumunan orang. Seperti, politik., olahraga, hiburan, serta akademik.

Kedua, diwajibkan menutup sementara seluruh destinasi wisata, tempat hiburan, diskotik, karaoke dan bioskop. Ketiga, khusus untuk cafe, rumah makan/ restoran hanya boleh melayani takeaway atau online. Keempat, terhadap kegiatan perhotelan penanggung jawab hotel wajib menyediakan layanan khusus untuk tamu yang ingin isolasi mandiri.

Untuk aktivitas tamu hanya di dalam kamar hotel, wajib menggunakan masker dan sarung tangan sesuai dengan protokol kesehatan.

Kegiatan yang masih diperbolehkan secara terbatas dengan menggunakan masker dan menerapkan jaga jarak (physical distancing), yakni lhitanan di faskes, pernikahan di KUA, dan pemakaman dan atau takziyah bukan karena Covid-19.

PSBB itu juga mengatur pembatasan layanan transportasi umum. Diwajibkan menghentikan sementara kegiatan pergerakan orang
dan atau barang kecuali untuk pemenuhan kebutuhan pokok, kegiatan terkait aspek pertahan an dan keamanan, kegiatan yang diperbolehkan selama pemberlakuan PSBB.

Adapun jenis transportasi yang dikecualikan untuk pergerakanorang dan barang adalah kendaraan bermotor pribadi dan angkutan umum dengan ketentuan hanya untuk pemenuhan kebutuhan pokok, membatasi jumlah maksimal 50% dari kapasitas angkutan.

Lalu, menggunakan masker dan sarung tangan (bagi
kendaraan roda dua), membatasi jam operasional (bagi angkutan umum), melakukan deteksi pamantauan suhu tubuh petugas dan penumpang bagi angkutan umum.

Selain itu, perlu menjaga jarak antara penumpang (physical distancing) minimal 1 meter, angkutan roda dua berbasis aplikasi (ojek online) dibatasi
hanya untuk pengangkutan barang. Begitu juga bendi dan delman dengan membatasi jumlah maksimal penumpang 50% dari kapasita s angkutan, serta menggunakan masker.

Dari pantauan Harianhaluan.com di lapangan, jalanan di sejumlah ruas Pasar Raya Padang tampak sepi. Pasar Raya seperti mati tak berpenghuni. Jalan-jalan seperti Ratulangi, Patimura, Jalan Jend A Yani, Jalan Jenderal Sudirman, hingga Sawahan tak seperti biasanya yang riuh dengan moda transportasi umum maupun pribadi.

Biasanya Kota Padang sangat sibuk aktivitas apalagi menjelang bulan Ramadhan, namun kini justru berbeda. Pada bulan puasa kali ini sukar kendaraan roda empat ataupun roda dua yang lalu lalang.

Virus Corona dan pemberlakukan PSBB di daerah itu berhasil ‘mengurung’ masyarakat untuk mengurangi aktivitas di laur rumah dan memilih berdiam diri di rumah. (*)

Author: Edi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *