Berita Terbaru: Dialog Interaktif "Peran Strategis Jaksa Mengajar dalam Membentuk Generasi Sadar Hukum" ● Pengumuman Babak Penyisihan Tensailicious PAI SMA ● Pengumuman Babak Penyisihan Tensailicious PAI SMA ● LAPORAN REALISASI PENERIMAAN DAN BELANJA DANA BOSP SEMESTER 2 TAHUN 2025 ● PENDAMPINGAN GURU DENGAN STRATEGI RASAKI UNTUK MEMBERIKAN LAYANAN YANG BERPIHAK PADA MURID DI SMA 10 PADANG ●
SMAN 10 Padang "PATEN"
PENDAMPINGAN DALAM PEMBELAJARAN MENDALAM MELALUI STRATEGI PIAWAI DI SLB AUTISMA YPPA PADANG

PENDAMPINGAN DALAM PEMBELAJARAN MENDALAM MELALUI STRATEGI PIAWAI DI SLB AUTISMA YPPA PADANG

🗓️ 18 November 2025 | ✍️ REFNITA, S.Pd. M.Pd PENGAWAS DISDIK PROV SUMBAR | 👁️ 1 tampilan
PENDAMPINGAN DALAM PEMBELAJARAN MENDALAM MELALUI STRATEGI PIAWAI DI SLB AUTISMA YPPA PADANG

PENDAHULUAN

SITUASI

Kementrian Pendidikan Dasar dan Menengah mengeluarkan kebijakan

tentang Pendekatan Pembelajaran Mendalam untuk meningkatkan kualitas

pembelajaran diruang-ruang kelas. Pendekatan ini diberlakukan karena melihat

kondisi Pendidikan saat ini dan kualitas pembelajaran yang belum berdampak

pada kemampuan literasi numerasi serta pembelajaran belum mengembangkan

kreatifitas murid. Berdasarkan kondisi ini pemerintah kemudian melakukan

transformasi pembelajaran dengan pendekatan Pembelajaran Mendalam agar

pembelajaran yang terjadi di ruang kelas menjadi lebih bermakna.

Selain itu pemerintah juga mengeluarkan permendikdasmen No. 10 tahun

2025 tentang Standar Kompetensi Lulusan pada Pendidikan Anak Usia Dini,

Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah. Ada 8 dimensi

profil lulusan yang harus dikuasai pada akhir setiap jenjang pendidikan, yaitu:

Keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, Kewargaan, penalaran

kritis, kreativitas, kolaborasi, kemandirian, kesehatan; dan komunikasi. Selain itu

peraturan ini mengatur lingkup standar kompetensi lulusan untuk setiap jenjang.

Untuk itu Satuan pendidikan perlu memastikan bahwa standar kompetensi ini

dapat tercapai pada setiap akhir jenjang.

SLB Autisma YPPA Padang berupaya agar murid dapat memiliki 8 dimensi

lulusan dan nantinya mampu hidup mandiri. Murid di sekolah ini pada umumnya

memiliki keterbatasan gangguan interaksi, komunikasi, dan prilaku/autis. Dengan

keterbatasan ini tentunya guru harus berupaya agar pembelajaran yang dilakukan

dikelas dapat lebih interaktif dan memberikan penguatan pada dimensi profil

lulusan.

Namun berdasarkan pengamatan pada modul ajar yang dibuat guru serta hasil

observasi pembelajaran terlihat bahwa dalam mengajar guru baru mengajarkan

pada tataran konsep atau memahami. Aktifitas pembelajaran belum mengaitkan

dengan konteks dunia nyata. Selain itu penguatan pada dimensi profil lulusan juga

belum sesuai dan terlihat dalam pembelajaran. Hal ini diperkuat dengan hasil

wawancara dengan Kepala Sekolah tentang pembelajaran dan penguatan dimensi

profil lulusan bahwa pemahaman guru tentang pembelajaran mendalam masih

bervariasi. Untuk itu perlu adanya upaya perbaikan agar dapat meningkatkan

kualitas pembelajaran dan karakter murid.

Sebagai pengawas pendamping, penulis merasa perlu melakukan

pendampingan untuk pembelajaran mendalam. Penulis menggunakan strategi

PIAWAI. Piawai merupakan akronim dari Pendekatan Inkuiri Kolaboratif dan

penggunaan whats’app, Google Site, Quiziz dan AI. Pendekatan inkuiri

kolaboratif dipilih karena merupakan pendekatan reflektif dan terstruktur untuk

menciptakan budaya kolaborasi dan peningkatan kualitas pembelajaran. Penulis

memfasilitasi inkuiri kolaboratif dengan membimbing Kepala Sekolah dan guru

untuk mengidentifikasi tantangan, merancang strategi, melaksanakan strategi serta

mengevaluasi, merefleksi, dan melakukan perbaikan. Dalam pelaksanaan

pendampingan, penulis menggunakan digitalisasi seperti WA, padlet, quizziz,

google site dan AI. Piawai dalam KBBI berarti cakap, bisa, atau mampu dalam

melakukan sesuatu. Penulis berharap guru SLB Autisma YPPA Padang mampu

dan cakap dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran mendalam di

kelasnya sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna.



TANTANGAN

Adapun tantangan dalam melaksanakan pendampingan ini adalah sebagai

berikut:



1. Pemahaman guru mengimplementasi prinsip berkesadaran, bermakna dan

menggembirakan masih bervariasi.

2. Masih ada guru yang beranggapan bahwa Pembelajaran Mendalam sulit

diimplementasikan di SLB terutama pada tahapan mengaplikasi.

3. Kerangka pembelajaran; praktik pedagogis, lingkungan pembelajaran,

kemitraan pembelajaran serta pemanfaatan digital dalam pembelajaran belum

digunakan secara maksimal.

4. Penguatan profil lulusan Kemandirian dan Komunikasi belum maksimal

diimplementasikan baik di sekolah maupun di rumah.

5. Kolaborasi antar guru mata pelajaran belum optimal dan adanya guru-guru

muda sehingga belum begitu menguasai tentang strategi dalam pembelajaran serta

kekawatiran sebagian guru dalam membawa murid melakukan aktifitas di luar

sekolah.

Tantangan-tantangan ini membuat penulis termotivasi untuk mendampingi guru

dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran mendalam sehingga

pembelajaran di SLB Autisma YPPA Padang menjadi lebih bermakna.



ISI

AKSI


Aksi yang penulis lakukan dalam pendampingan kepada Kepala Sekolah dan

guru adalah dengan memfasilitasi inkuiri kolaboratif untuk mengidentifikasi

tantangan, merancang dan melaksanakan strategi serta mengevaluasi, merefleksi

dan melakukan perbaikan. Selama pendampingan penulis menggunakan beberapa

aplikasi untuk mendukung kegiatan seperti whats’app, Google Site, Quiziz dan AI.

Langkah-langkah pendampingan dengan pendekatan Inkuiri Kolaboratif dapat

digambarkan sebagai berikut:

1. Asses (Mengidentifikasi). Pada tahapan ini pengawas bersama Kepala Sekolah

dan guru mengidentifikasi pembelajaran yang telah dilaksanakan selama ini yang

masih menjadi kendala. Penulis menggunakan teknik coaching untuk menggali

permasalahan pembelajaran. Identifikasi dilakukan dengan merefleksi hasil

observasi pembelajaran, pengamatan serta wawancara. Dari hasil identifikasi

tersebut ditemukan bahwa belum semua guru memahami prinsip, pengalaman

belajar, dan kerangka pembelajaran mendalam. Selain itu berdasarkan identifikasi

8 dimensi profil lulusan, perlu melakukan prioritas penguatan. Mengingat murid

autis memiliki keterbatasan selain pada fokus juga pada kemampuan

berkomunikasi dan kemandirian, maka penguatan terhadap kedua dimensi

tersebut menjadi prioritas utama.

2. Design (Desain). Berdasarkan hasil identifikasi, pengawas mendampingi

Kepala Sekolah dan guru, berkolaborasi merancang kegiatan yang akan dilakukan.

Dari hasil diskusi bersama maka direncanakan kegiatan In House Training (IHT)

tentang Pembelajaran Mendalam dengan penulis sendiri sebagai nara sumbernya.

Tim juga berkolaborasi dalam menyiapkan berbagai kebutuhan untuk pelaksanaan

IHT.

3. Implementation (Implementasi). Kegiatan IHT dilaksanakan di sekolah selama

2 hari dengan melibatkan semua guru. Dalam pelaksanaannya, penulis

menggunakan pendekatan mendalam. Hal ini dilakukan agar guru dapat langsung

merasakan sendiri bagaimana hakikat pembelajaran mendalam dan

implementasinya. Pada tahapan memahami, guru mendapatkan penjelasan tentang

apa dan bagaimana prinsip, pengalaman belajar, serta kerangka pembelajaran

mendalam. Penulis memberikan asesmen formatif dalam bentuk quizziz untuk

mencek pemahaman guru tentang materi yang telah dipelajari. Selanjutnya guru

membuat rancangan pembelajaran mendalam dengan berkolaborasi. Penulis juga

menjelaskan tentang penggunaan kecerdasan artifisial (AI) seperti Gemini dan

Chat GPT untuk mendapatkan inspirasi. Penulis juga mengingatkan agar guru

dapat menyesuaikan dengan karakteristik murid, tujuan pembelajaran, alokasi

waktu serta sarana dan prasarana yang tersedia di sekolah. Pada hari kedua, guru

menampilkan Rencana Pembelajaran Mendalam untuk mendapatkan masukan

dari guru lainnya. Agar pembelajaran menggembirakan, penulis menyarankan

agar guru membuat lagu sederhana tentang materi. Penulis melakukan mentoring

dengan memberikan contoh agar pembelajaran menjadi lebih menyenangkan dan

terciptanya suasana yang menggembirakan di kelas. Pendampingan dalam

merancang pembelajaran mendalam juga dilakukan melalui WA setelah kegiatan

berlangsung.

Setelah pelaksanaan IHT, guru mengimplementasikan pembelajaran

mendalam di kelas. Salah satu kelas yang penulis observasi adalah kelas

keterampilan tata boga. Guru yang berkolaborasi adalah guru bahasa Indonesia

dan guru Keterampilan. Kegiatan diawali dengan murid menulis daftar belanja.

Guru memberikan pertanyaan pemantik tentang apa yang dibutuhkan untuk

membuat miehun goreng dan murid menyebutkan dan menuliskannya. Kemudian

dengan bimbingan guru, murid bersama-sama berbelanja ke warung dekat sekolah.

Setelah dari warung, mereka memasak bersama. Murid juga dibimbing dalam

menyajikan makanan yang telah dimasak dan diakhiri dengan makan bersama.

Pada akhir kegiatan guru melakukan refleksi dengan menanyakan perasaan murid

terhadap pembelajaran yang telah dilalui. Semua murid menyatakan senang

dengan kegiatan tersebut.

4. Evaluating, Reflect, and Change (mengevaluasi, merefleksikan dan

mengubah).

Tahapan keempat adalah mengevaluasi, merefleksi dan mengubah atau

memperbaiki. Pada tahapan ini penulis mendampingi Kepala Sekolah

mengevaluasi pelaksanaan pembelajaran mendalam melalui observasi kelas.

Kepala Sekolah juga menyebarkan angket melalui Gform tentang refleksi

terhadap implementasi pembelajaran mendalam. Berdasarkan hasil observasi

tersebut ditemukan bahwa sebagian besar guru (80%) telah menerapkan prinsip

pembelajaran mendalam dikelas. 85% guru telah menggunakan pengalaman

belajar memahami, mengaplikasi dan merefleksi. Dalam praktik pedagogis, guru

telah menggunakan berbagai strategi pembelajaran. Umumnya guru menggunakan

direct instruction (85%), prompting dan drill. Dalam pemanfaatan lingkungan

pembelajaran, guru memanfaatkan kelas, halaman dan aula namun sangat sedikit

sekali memanfaatkan lingkungan sekitar sekolah. Budaya belajar yang

dikembangkan guru adalah kemandirian dan kolaborasi. Dalam hal kemitraan,

sebagian besar guru sudah menjalin kemitraan dengan orang tua (90%) selain

dengan teman sejawat (85%) dan Kepala Sekolah (75%). Selanjutnya dalam

pemanfaatan digital, guru telah menggunakan digitalisasi mulai dari perencanaan,

pelaksanaan dan asesmen. Sebagian besar menggunakan Youtube (85%) dan AI

(80%). Untuk asesmen, guru menggunakan wordwall, quizziz dan Kahoot. Terkait

dengan Dimensi Profil Lulusan, guru telah menguatkan kemandirian murid dan

mendorong murid untuk menyampaikan perasaannya secara lisan. Keterlibatan

orang tua untuk berkomunikasi dengan murid terkait pembelajaran perlu

ditingkatkan. 



Berdasarkan hasil dari evaluasi tersebut maka dilakukan refleksi. Hal yang

sudah baik adalah pemahaman guru terkait pembelajaran mendalam sudah

meningkat namun perlu sarana untuk guru berbagi praktik baik pelaksanaan

Pembelajaran Mendalam. Untuk itu kegiatan kombel perlu digiatkan lagi. Selain

itu Penulis juga memfasilitasi guru dengan Google Site

(https://sites.google.com/dinas.belajar.id/kombel/) untuk menyimpan semua

materi dan praktik baik terkait dengan pembelajaran mendalam yang dapat

diakses oleh guru untuk mendapatkan pengetahuan tentang pembelajaran

mendalam. Untuk membantu guru muda dalam memahami pembelajaran

mendalam, maka sekolah perlu menunjuk guru mentor. Selanjutnya, terkait

Kemitraan dengan orang tua perlu ditingkatkan dengan membuat jaringan

Komunikasi Guru dan Orang tua melalui Gform untuk mendata keterlibatan orang

tua dalam menanyakan kepada anak tentang kegiatan di sekolah. Komunikasi ini

penting agar dapat melatih murid berkomunikasi dan membangun kedekatan

orang tua dan anak. Terakhir, perlu peningkatan kemitraan dengan pihak lain

terutama untuk terapi wicara murid.



pemanfaatan digital, guru telah menggunakan digitalisasi mulai dari perencanaan,

pelaksanaan dan asesmen. Sebagian besar menggunakan Youtube (85%) dan AI

(80%). Untuk asesmen, guru menggunakan wordwall, quizziz dan Kahoot. Terkait

dengan Dimensi Profil Lulusan, guru telah menguatkan kemandirian murid dan

mendorong murid untuk menyampaikan perasaannya secara lisan. Keterlibatan

orang tua untuk berkomunikasi dengan murid terkait pembelajaran perlu

ditingkatkan.

Berdasarkan hasil dari evaluasi tersebut maka dilakukan refleksi. Hal yang

sudah baik adalah pemahaman guru terkait pembelajaran mendalam sudah

meningkat namun perlu sarana untuk guru berbagi praktik baik pelaksanaan

Pembelajaran Mendalam. Untuk itu kegiatan kombel perlu digiatkan lagi. Selain

itu Penulis juga memfasilitasi guru dengan Google Site

(https://sites.google.com/dinas.belajar.id/kombel/) untuk menyimpan semua

materi dan praktik baik terkait dengan pembelajaran mendalam yang dapat

diakses oleh guru untuk mendapatkan pengetahuan tentang pembelajaran

mendalam. Untuk membantu guru muda dalam memahami pembelajaran

mendalam, maka sekolah perlu menunjuk guru mentor. Selanjutnya, terkait

Kemitraan dengan orang tua perlu ditingkatkan dengan membuat jaringan

Komunikasi Guru dan Orang tua melalui Gform untuk mendata keterlibatan orang

tua dalam menanyakan kepada anak tentang kegiatan di sekolah. Komunikasi ini

penting agar dapat melatih murid berkomunikasi dan membangun kedekatan

orang tua dan anak. Terakhir, perlu peningkatan kemitraan dengan pihak lain

terutama untuk terapi wicara murid.

PENUTUP

REFLEKSI


Berdasarkan hasil dari pelaksanaan strategi PIAWAI (Pendekatan Inkuiri

Kolaboratif dan penggunaan whats’app, Google Site, Quiziz dan AI) dalam

pendampingan guru di SLB Autisma YPPA Padang dapat disimpulkan

pendampingan ini memberikan dampak positif bagi berbagai pihak. Refleksi

dilakukan melalui wawancara dengan Kepala Sekolah dan guru serta hasil angket

melalui Gform (https://forms.gle/Xayg1v9VbbENcTEo7). Hasil refleksi terhadap

pelaksanaan pendampingan pembelajaran mendalam dengan menggunakan

strategi Piawai dapat digambarkan sebagai berikut:

1. Pendampingan PIAWAI efektif dalam pendampingan Kepala Sekolah dan

guru dalam pembelajaran mendalam.

2. Hal yang membuat keberhasilan ini adalah peran Kepala Sekolah sebagai

pemimpin pembelajaran, fasilitator, kolaborator, dan pengembang budaya

sekolah berdampak pada keberhasilan kegiatan yang dilakukan.

3. Guru juga sudah memperlihatkan peran baru sebagai activator, kolaborator

dan pengembang budaya belajar.

4. Komunikasi 2 arah antara guru dan orang tua meningkatkan penguatan

pada Dimensi Profil Lulusan Kemandirian dan Komunikasi.

5. Adanya efek domino dari pelaksanaan pembelajaran mendalam adalah

penguatan 7 Kebiasaan Anak Indonesi Hebat (7KAIH) yaitu

bermasyarakat.

Dari refleksi tersebut dapat disimpulkan bahwa pendekatan pembelajaran

mendalam perlu terus diimplementasikan di ruang-ruang kelas di SLB

Autisma YPPA Padang agar dapat meningkatkan pemahaman terhadap

pembelaajaran serta penguatan untuk dimensi profil lulusan kemandirian dan

komunikasi.

Penggunaan pendekatan inkuiri kolaboratif yang penulis gunakan dalam mem

asilitasi dan mendampingi Kepala Sekolah dalam pembelajaran mendalam

meningkatkan pemahaman Kepala Sekolah dan guru dalam pembelajaran

mendalam. Kolaborasi ini dibentuk mulai dari tahapan mengidentifikasi,

mendesain, implementasi hingga mengevaluasi, merefleksi dan

mengulang/memperbaiki meningkatkan pemahaman guru dalam

mengimplementasikan pembelajaran mendalam di kelas dan mencari solusi

dari permasalahan yang ditemui. Hellen Keller, seorang penulis disabilitas

dari Amerika menyatakan bahwa “alone you can do so little but together you

can do so much”, artinya sendiri kamu bisa melakukan sedikit hal namun

dengan bersama kamu bisa melakukan banyak hal.

Semoga strategi ini terus meningkatkan kolaborasi antar guru serta guru dan

orang tua sehingga semua guru piawai atau mampu menciptakan pembelajaran

mendalam di kelasnya agar pembelajarannya lebih bermakna bagi anak-anak

Istimewa di SLB Autisma YPPA Padang.